mahasiswa, kata bagi daun di tengah hamparan jalanan.
berjalan usang dengan penuh air mengalir di atas pori-pori kulit yang coklat
menyentuhkan suara dalam cerahnya mentari, selamat siang menjelang sore warga kota!
sapaan penghibur bagi mahasiswa jalanan. ucapan itu selalu dihantarkan di setiap aktifitasnya ketika dia berjalan, diam. ucapan bagi mahasiswa jalanan yang selalu meneriakkan suara lantang tentang perubahan. dia berkata.
"rezim, rezimnya pemerintahan atas kebohongan.
rezim yang selalu menjadi boneka yang hidup diciptakan kesadaran kebohongan.
selalu menganga oleh sperma modernitas.
hamparan indonesia yang di semprot oleh wangi-wangi Zombie Globalisasi.
bangsa kita adalah bangsa atas kebohongan, bangsa yang penuh dengan retorika-retorika elit atas kebohongan. meneriakkan pertanyaan-pertanyaan demi perubahan atas kebohongan. membentuk kelompok-kelompok menuju kekuasaan atas kebohongan dan menciptakan pemimpin-pemimpin atas kebohongan. melahirkan angin-angin demokrasi atas kebohongan. itulah realitas indonesia, melahirkan,menciptakan dan membentuk kesadaran kebohongan jadilah orang-orang atas kebohongan.
serpihan pasir jalan telah menjadi teman hidupnya sekaligus menjadi saksi bagi kehidupan mahasiswa jalanan.
selalu terhempas oleh kekerasan-kekerasan tangan-tangan hati yang ragu atas penindasan kepada mahasiswa jalanan. itulah mahasiswa, itulah jalanan. selalu menjadi lidah bagi masyarakat kota. cacian, hinaan menjadi makanan siang bagi mahasiswa jalanan. mencari kehidupan di tengah-tengah rumput taman kota.
mencari kebenaran dari lubang-lubang sampah, apakah masih ada kebeneran disana?
Pramoe Mirza
Tidak ada komentar:
Posting Komentar