Dikota jogya, kata ini kurajut sambil
Mendendangkan irama hati persahabatan
Aku berpesta sendiri dengan bintang dan kesunyian
Aku melamun dalam kesunyian dan kumasuki pusara dunia
Maya tentang persahabatan
Tak ada lilin, lampu, cahaya menemaniku
Ku imaji, ku hayati nilai-nilai persahabatan kita dalam sendiri
Ku resapi takjub adanya dirimu
Malam ini ku buat bidadari iri karnamu
Ku buat rama sinta ingin hidup kembali
Untuk merasakan makna persahabatan yang kita rajut sejak dulu
Jika pelangi esok hadir
Ia akan membentuk suatu lingkaran indah warna yang menghiasi semesta
Jika pelangi esok indah, mari kita warnai persahabatan kita dengan persaudaraan abadi
Untukmu labirin pemilik separuh nafasku
Pramoe Mirza, Jogyakarta
18.07.08
Minggu, 27 Juni 2010
Metamorfosa Kehidupan
Sahabat, untaian kata dalam ladi kata
Terhempas dalam bayang-bayang semu obyek kehidupan
Menciptakan nadir baru dalam bingkai kehidupan baru
Engkau adalah tulang
Engkau adalah nafas
Engkau adalah nadi
Pernak pernik yang hidup menghiasi semesta ini
6 juli awal dari hidup baru persahabatan baru
Merintih suatu fenomena budaya baru kehidupan
Terikat oleh waktu dalam ruang-ruang kehidupan baru
mencapai bentuk aura bahagia
Serpih beragam budaya menghampiri kebhinekaan kita
Udara menjadi penghubung labirin emosi
Tali yang terurai tidak lagi terpisah
Menjadi rajut, menjadi simpul oleh
udara siang saat itu
Metamorfosa persahabatan
Letih tidak lagi menghiasi raga
Semangat tetap bersama di tiap waktu yang kosong
Itulah metamorfosa persahabatan
Krida sraf tetap menyadarkan kita
dalam bingkai ruang-ruang kehidupa yang hampa
Lorong-lorong hitam tidak lagi gelap
Hidup ini tidak lagi sendiri
Bersama untuk membangun istana kebahgiaan
Itulah metamorfos persahabatan
Tidak ada kata kosong dalam ruag waktu yag singkat
Tidak ada letih kata dalam kehampaan hidup
Tidak ada gelisahbahasa dalam perbedaan kita
yang ada adalah serpihan-serpihan kertas kosong
selalu disimpan, selalu digoreskan, selalu disatukan
dalam persuasi kata
Untukmu kalimat metamorfosa persahabatan
Kita memang berbeda dalam berbagai kehidupan yang beda
tapi kita tidak berbeda dalam CINTA
kita terasing dalam perbedaan
tetapi tidak untuk persahabatan
Pramoe Mirza
Jogyakarta, 13-07-08
Terhempas dalam bayang-bayang semu obyek kehidupan
Menciptakan nadir baru dalam bingkai kehidupan baru
Engkau adalah tulang
Engkau adalah nafas
Engkau adalah nadi
Pernak pernik yang hidup menghiasi semesta ini
6 juli awal dari hidup baru persahabatan baru
Merintih suatu fenomena budaya baru kehidupan
Terikat oleh waktu dalam ruang-ruang kehidupan baru
mencapai bentuk aura bahagia
Serpih beragam budaya menghampiri kebhinekaan kita
Udara menjadi penghubung labirin emosi
Tali yang terurai tidak lagi terpisah
Menjadi rajut, menjadi simpul oleh
udara siang saat itu
Metamorfosa persahabatan
Letih tidak lagi menghiasi raga
Semangat tetap bersama di tiap waktu yang kosong
Itulah metamorfosa persahabatan
Krida sraf tetap menyadarkan kita
dalam bingkai ruang-ruang kehidupa yang hampa
Lorong-lorong hitam tidak lagi gelap
Hidup ini tidak lagi sendiri
Bersama untuk membangun istana kebahgiaan
Itulah metamorfos persahabatan
Tidak ada kata kosong dalam ruag waktu yag singkat
Tidak ada letih kata dalam kehampaan hidup
Tidak ada gelisahbahasa dalam perbedaan kita
yang ada adalah serpihan-serpihan kertas kosong
selalu disimpan, selalu digoreskan, selalu disatukan
dalam persuasi kata
Untukmu kalimat metamorfosa persahabatan
Kita memang berbeda dalam berbagai kehidupan yang beda
tapi kita tidak berbeda dalam CINTA
kita terasing dalam perbedaan
tetapi tidak untuk persahabatan
Pramoe Mirza
Jogyakarta, 13-07-08
Bangsaku yang Bisu
Bangsaku adalah bangsa yang bisu
Yang bisu atas penindasan
Bangsaku adalah kebisuan
Selalu senang disemprot oleh eksperimen parfum globalisasi yang bisu
Bangsaku adalah kebisuan
Selalu berfikir naif senang melihat orang-orang yang bisu
Bangsaku itulah bangsaku yang bisu
Belum sadar, belum sadar atas penindasan tangan bisu
Bangsaku adalah kebisuan
Senang menjadi budak, menjadi kacung tanah bangsaku
Bangsaku adalah kebisuan
Bangsa yang menjadi debu oleh premanistik bangsa yang bisu
Bangsaku adalah kebisuan
Yang kerdil senang bermain di lantai-lantai modernitas
Bangsaku adalah kebisuan
Diaman bangsaku dan bangsaku yang tidak bisu?
Bangsaku adalah kebisuan
Seperti bola tenis kuning dilempar kesana, dilempar kesini dengan tangan yang bisu
Bangsaku adalah kebisuan
Selalu senang menganga, menelan sperma-sperma Neo-liberalisme yang bisu
Bangsaku adalah kebisuan
Seperti lokalisasi selalu didatangi oleh stakeholder-stakeholder asing untuk menikmati wanginya tubuh bangsaku yang bisu
Bangsaku tetaplah bangsaku
Bukan bangsa orang lain dan bukan bangsa orang-orang yang memberikan solusi bisu
Bangsaku, bangsaku dan bangsaku
Dimana peduli bangsaku atas bangsaku?
Teruslah berjalan, bergerak dan berlari mencapai cita-cita bangsaku atas tanpa penindasan.
Oleh Pramoe Mirza
Sari Inspirasi, ”Bangsaku Bukanlah Bangsaku”
–Nur Kholis Madjid–
Jogyakarta, 19/05/08
Yang bisu atas penindasan
Bangsaku adalah kebisuan
Selalu senang disemprot oleh eksperimen parfum globalisasi yang bisu
Bangsaku adalah kebisuan
Selalu berfikir naif senang melihat orang-orang yang bisu
Bangsaku itulah bangsaku yang bisu
Belum sadar, belum sadar atas penindasan tangan bisu
Bangsaku adalah kebisuan
Senang menjadi budak, menjadi kacung tanah bangsaku
Bangsaku adalah kebisuan
Bangsa yang menjadi debu oleh premanistik bangsa yang bisu
Bangsaku adalah kebisuan
Yang kerdil senang bermain di lantai-lantai modernitas
Bangsaku adalah kebisuan
Diaman bangsaku dan bangsaku yang tidak bisu?
Bangsaku adalah kebisuan
Seperti bola tenis kuning dilempar kesana, dilempar kesini dengan tangan yang bisu
Bangsaku adalah kebisuan
Selalu senang menganga, menelan sperma-sperma Neo-liberalisme yang bisu
Bangsaku adalah kebisuan
Seperti lokalisasi selalu didatangi oleh stakeholder-stakeholder asing untuk menikmati wanginya tubuh bangsaku yang bisu
Bangsaku tetaplah bangsaku
Bukan bangsa orang lain dan bukan bangsa orang-orang yang memberikan solusi bisu
Bangsaku, bangsaku dan bangsaku
Dimana peduli bangsaku atas bangsaku?
Teruslah berjalan, bergerak dan berlari mencapai cita-cita bangsaku atas tanpa penindasan.
Oleh Pramoe Mirza
Sari Inspirasi, ”Bangsaku Bukanlah Bangsaku”
–Nur Kholis Madjid–
Jogyakarta, 19/05/08
Sajak Mahasiswa Jalanan
mahasiswa, kata bagi daun di tengah hamparan jalanan.
berjalan usang dengan penuh air mengalir di atas pori-pori kulit yang coklat
menyentuhkan suara dalam cerahnya mentari, selamat siang menjelang sore warga kota!
sapaan penghibur bagi mahasiswa jalanan. ucapan itu selalu dihantarkan di setiap aktifitasnya ketika dia berjalan, diam. ucapan bagi mahasiswa jalanan yang selalu meneriakkan suara lantang tentang perubahan. dia berkata.
"rezim, rezimnya pemerintahan atas kebohongan.
rezim yang selalu menjadi boneka yang hidup diciptakan kesadaran kebohongan.
selalu menganga oleh sperma modernitas.
hamparan indonesia yang di semprot oleh wangi-wangi Zombie Globalisasi.
bangsa kita adalah bangsa atas kebohongan, bangsa yang penuh dengan retorika-retorika elit atas kebohongan. meneriakkan pertanyaan-pertanyaan demi perubahan atas kebohongan. membentuk kelompok-kelompok menuju kekuasaan atas kebohongan dan menciptakan pemimpin-pemimpin atas kebohongan. melahirkan angin-angin demokrasi atas kebohongan. itulah realitas indonesia, melahirkan,menciptakan dan membentuk kesadaran kebohongan jadilah orang-orang atas kebohongan.
serpihan pasir jalan telah menjadi teman hidupnya sekaligus menjadi saksi bagi kehidupan mahasiswa jalanan.
selalu terhempas oleh kekerasan-kekerasan tangan-tangan hati yang ragu atas penindasan kepada mahasiswa jalanan. itulah mahasiswa, itulah jalanan. selalu menjadi lidah bagi masyarakat kota. cacian, hinaan menjadi makanan siang bagi mahasiswa jalanan. mencari kehidupan di tengah-tengah rumput taman kota.
mencari kebenaran dari lubang-lubang sampah, apakah masih ada kebeneran disana?
Pramoe Mirza
berjalan usang dengan penuh air mengalir di atas pori-pori kulit yang coklat
menyentuhkan suara dalam cerahnya mentari, selamat siang menjelang sore warga kota!
sapaan penghibur bagi mahasiswa jalanan. ucapan itu selalu dihantarkan di setiap aktifitasnya ketika dia berjalan, diam. ucapan bagi mahasiswa jalanan yang selalu meneriakkan suara lantang tentang perubahan. dia berkata.
"rezim, rezimnya pemerintahan atas kebohongan.
rezim yang selalu menjadi boneka yang hidup diciptakan kesadaran kebohongan.
selalu menganga oleh sperma modernitas.
hamparan indonesia yang di semprot oleh wangi-wangi Zombie Globalisasi.
bangsa kita adalah bangsa atas kebohongan, bangsa yang penuh dengan retorika-retorika elit atas kebohongan. meneriakkan pertanyaan-pertanyaan demi perubahan atas kebohongan. membentuk kelompok-kelompok menuju kekuasaan atas kebohongan dan menciptakan pemimpin-pemimpin atas kebohongan. melahirkan angin-angin demokrasi atas kebohongan. itulah realitas indonesia, melahirkan,menciptakan dan membentuk kesadaran kebohongan jadilah orang-orang atas kebohongan.
serpihan pasir jalan telah menjadi teman hidupnya sekaligus menjadi saksi bagi kehidupan mahasiswa jalanan.
selalu terhempas oleh kekerasan-kekerasan tangan-tangan hati yang ragu atas penindasan kepada mahasiswa jalanan. itulah mahasiswa, itulah jalanan. selalu menjadi lidah bagi masyarakat kota. cacian, hinaan menjadi makanan siang bagi mahasiswa jalanan. mencari kehidupan di tengah-tengah rumput taman kota.
mencari kebenaran dari lubang-lubang sampah, apakah masih ada kebeneran disana?
Pramoe Mirza
Langganan:
Postingan (Atom)