Bangsaku adalah bangsa yang bisu
Yang bisu atas penindasan
Bangsaku adalah kebisuan
Selalu senang disemprot oleh eksperimen parfum globalisasi yang bisu
Bangsaku adalah kebisuan
Selalu berfikir naif senang melihat orang-orang yang bisu
Bangsaku itulah bangsaku yang bisu
Belum sadar, belum sadar atas penindasan tangan bisu
Bangsaku adalah kebisuan
Senang menjadi budak, menjadi kacung tanah bangsaku
Bangsaku adalah kebisuan
Bangsa yang menjadi debu oleh premanistik bangsa yang bisu
Bangsaku adalah kebisuan
Yang kerdil senang bermain di lantai-lantai modernitas
Bangsaku adalah kebisuan
Diaman bangsaku dan bangsaku yang tidak bisu?
Bangsaku adalah kebisuan
Seperti bola tenis kuning dilempar kesana, dilempar kesini dengan tangan yang bisu
Bangsaku adalah kebisuan
Selalu senang menganga, menelan sperma-sperma Neo-liberalisme yang bisu
Bangsaku adalah kebisuan
Seperti lokalisasi selalu didatangi oleh stakeholder-stakeholder asing untuk menikmati wanginya tubuh bangsaku yang bisu
Bangsaku tetaplah bangsaku
Bukan bangsa orang lain dan bukan bangsa orang-orang yang memberikan solusi bisu
Bangsaku, bangsaku dan bangsaku
Dimana peduli bangsaku atas bangsaku?
Teruslah berjalan, bergerak dan berlari mencapai cita-cita bangsaku atas tanpa penindasan.
Oleh Pramoe Mirza
Sari Inspirasi, ”Bangsaku Bukanlah Bangsaku”
–Nur Kholis Madjid–
Jogyakarta, 19/05/08
Tidak ada komentar:
Posting Komentar